Keberagaman yang Tak Beragam

Indonesia adalah negara yang multikulturual. Multikultural adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan mengenai keberagaman budaya yang ada. Secara mudahnya, multikultural diartikan dengan suatu masyarakat yang mempunyai banyak kebudayaan, dan Indonesia adalah salah satu contohnya. Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, adat, bahkan agama. Itulah yang menyebabkan Indonesia mempunyai semboyan yang indah yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bermakna walaupun berbeda-beda namun tetap satu.
Indonesia adalah negara yang mempunyai beribu-ribu pulau yang tersebar di berbagai wilayah negri ini. Bukan hal yang mengherankan pula mengapa Indonesia mempunyai banyak kebudayaan, yaitu karena banyaknya pulau di Indonesia dengan perbedaan keadaan alam yang ada dan perbedaan adat masing-masing yang sudah mereka anut sedari zaman nenek moyang. Namun, apakah hal tersebut adalah yang menjadi alasan kita sebagai masyarakyat Indonesia sering tersulut untuk terpecah belah?
Meskipun Indonesia mempunyai semboyan yang begitu indah dengan makna yang indah pula, meskipun Indonesia sudah menanamkan nilai persatuan sejak masa kemerdekaan, meski Indonesia menjadi negara yang dikagumi oleh negara lain karena hidup dengan berbagai macam perbedaan yang ada sejak zaman dulu, namun tetap saja perpecahan sering terjadi di Indonesia. Bukan hanya karena permasalahan agama, bahkan permasalahan perbedaan pemikiran pun bisa menyulut orang untuk beradu argumen dengan sesamanya.
Ironi kehidupan berbangsa bernegara ini memang sungguh dirasakan oleh masyarakat Indonesia, bagaimana para pahlawan sudah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, yang dimana dalam Pancasila sendiri setiap silanya merujuk kepada persatuan bangsa ini, namun dalam hidup bermasyarakat masih sering terjadi perpecahan karena kurangnya rasa saling menghormati terhadap satu sama lain. Hal yang sangat terlihat baru baru ini adalah kasus #2019GantiPresiden dengan #DiaSibukKerja. Kedua tagar tersebut adalah perbedaan yang begitu jelas dimana #2019GantiPresiden berarti beberapa masyarakat Indonesia menginginkan untuk mengingkan Presiden baru untuk periode 2019-2024 mendatang, sedangkan #DiaSibukKerja adalah orang-orang yang tetap menginginkan Jokowi tetap menjabat sebagai Presiden untuk periode selanjutnya. Perbedaan yang sangat jelas tersebut pun akhirnya memicu pertengkaran antara orang yang mengingkan ganti Presiden dan yang mengingkan Jokowi tetap menjabat sebagai Presiden. Pertengkaran ini bukan hanya pada dunia maya saja, dimana orang saling beragurmen ingin menyatakan pendapatnya adalah pendapat paling benar, namun juga dalam dunia nyata dimana beberapa kaum fanatik #2019GantiPresiden mengintimidasi seorang ibu dan anak yang menggunakan kaos bertuliskan #DiaSibukKerja di car free day dekat bundaran HI 29 April silam (Sumber: https://tirto.id/yang-terjadi-saat-ibu-dan-anak-diintimidasi-di-car-free-day-cJFL)
Meskipun begitu, pada survey yang dilakukan oleh survei Media Nasional (Median) pada 24 Maret – 6 April 2018 silam mengeluarkan hasil bahwa sebesar 46,37 persen responden memilih Jokowi diganti tokoh lain pada 2019. Sementara, 45,22 persen responden yang ingin Jokowi kembali memimpin. Sebanyak 8,41 persen responden lainnya tak menjawab (Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2018/04/16/15234861/survei-median-46-persen-ingin-presiden-baru-45-persen-mau-jokowi-2-periode). Responden lebih banyak yang memilih untuk 2019 ganti Presiden meskipun belum tahu siapa yang pantas menggantikan Jokowi.
Mengenaskan memang mengetahui bahwa apa yang sudah ditanam oleh para pahlawan ternyata kurang bisa diterapkan oleh masyarakat Indonesia. Miris melihat masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengerti betapa pentingnya menghormati satu sama lain. Sedih melihat bahwa ternyata keberagaman yang seharusnya menjadi ciri khas bangsa Indonesia justru adalah hal utama yang menjadi hancurnya negara ini. 
Perpecahan yang terjadi di Indonesia pun bukan hanya pada perbedaan pendapat, namun juga masih sering terjadi karena perbedaan suku maupun ras terntentu. Walaupun nampaknya hidup sudah semodern ini, namun nyatanya masih banyak pengucilan terhadap kaum ataupun ras tertentu, seperti contohnya anak SD menjadi korban bullydi sekolahnya karena dinilai teman-temannya anak ini mirip Ahok (Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171031173538-12-252490/dinilai-mirip-ahok-bocah-sd-di-jaktim-jadi-korban-bully). Dalam kasus ini, anak ini sampai tidak mau datang lagi ke sekolah karena perlakuan teman-temannya. Pada saat kejadian itu, memang sedang panasnya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok dan isu bahwa Ahok tidak boleh menjadi pemimpin karena beretnis Tionghoa. Hal ini membuat bukan hanya orang dewasa saja, namun juga anak anak menjadi mendiskriminasi etnis Tionghoa. 
Diskriminasi etnis Tionghoa ini pun sudah terjadi sejak zaman orde baru dan berlanjut sampai sekarang. Walaupun sekarang tidak semengerikan saat zaman orde baru, namun diskriminasi terhadap etnis Tionghoa pun masih terjadi di Indonesia, padahal banyak etnis Tionghoa inipun juga sudah menjadi penduduk asli Indonesia. Bukankah berarti mereka pun menjadi saudara setanah air kita? Lalu mengapa masih terjadi diskriminasi terhadap mereka?
Dalam setiap perpecahan yang terjadi di Indonesia , membuat Indonesia menjadi negara yang menganut keberagaman namun hidupnya justru tidak beragam. Kesama rataan pemikiran dan kepercayaan dituntut oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan dalam setiap aksi yang dicanangkan. Akan ada waktunya dimana Indonesia akan terjadi pergejolakan hebat karena toleransi dan rasa saling menghormati yang kurang pada sesamanya masing-masing. 
Semoga masyarakat Indonesia bisa sadar bahwa keberagaman yang ada di Indonesia ini adalah bukan suatu hal yang layak untuk dijadikan masalah, namun justru harus disyukuri karena keunikan dan ciri khas dari bangsa ini sendiri. Bahwa negara lain mengagumi keberagaman bahkan budaya yang dimiliki masing-masing daerah di Indonesia. Hidup berdamai dengan keberagaman yang ada adalah hal terindah yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan keutuhan negara ini. Dengan begitu saya percaya bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan belaka, namun menjadi nyata dan hadir dalam setiap aspek yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Motivation Letter Untuk Pertukaran Pelajar

Headline Kompas.com: Alasan Bakri, Penghulu Muda Rajin Laporkan Gratifikasi dari Warga ke KPK

Jangan Ngaku Gamer Kalo Gak Tau istilah Istilah Ini