Organisasi Pengubah Pertiwi

Di zaman millennial yang serba cepat ini, setiap orang mempunyai kesibukannya masing-masing dan lupa dengan sekitar. Setiap orang berubah menjadi individualistis karena terlalu sibuk dengan apa yang hendak orang tersebut capai. Namun nyatanya di zaman modern ini, masih ada orang-orang yang peduli terhadap sesama dan ingin membantu orang di sekitarnya, seperti contohnya organisasi non-pemerintah, Dynamic Learning.
Dynamic Learning merupakan organisasi yang bergerak dibidang pendidikan melalui program peduli masalah sosial anak dengan metode pembelajaran yang dinamis. Dinamis disini maksudnya adalah metode pembelajaran ini dapat diikuti oleh semua kelompok umur, di manapun, dan kapanpun. Dynamic Learning sudah berdiri sejak tahun 2015 dan sudah mempunyai 47 relawan untuk mengajar anak jalanan. 
Organisasi ini mempunyai tujuan untuk terus mengurangi jumlah anak jalanan di Kota Semarang dan memberdayakan para ibu dan anak jalanan dengan cara memotong akar permasalahannya, yakni dari faktor keluarga. Untuk di Semarang sendiri, kegiatan belajar mengajarnya dilakukan di daerah Gunung Brintik karena memang anak jalanan banyak yang bermukim di daerah tersebut. 
Dibalik organisasi non-pemerintah ini, tentunya ada sosok yang mencetuskan Dynamic Learning ini. Sosok tersebut adalah alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, yaitu Dewi Nur Cahyaningsih. Dewi meraih The Best Pitchingdalam kompetisi ASEAN Startup Accelerator2017 di Kaplan University, Singapore pada 10-12 Juli 2017 lalu. Kompetisi ini digelar oleh Indonesia Youth Academy yang bekerjasama dengan Kaplan University, National University of Singapore (NUS) Enterprise, Singtel, dan 12 investor, CEO serta CTO dari berbagai perusahaan di Singapura. Finalis yang lolos sebanyak 67 Tim yang berlomba untuk melakukan pitching ide bisnis di depan para investor. Dynamic Learning membawakan sebuah startup berbasis sociopreneur dengan konsep pendidikan karakter yaitu keimanan, nasionalisme, teknologi, motivasi, dan kewirausahaan, yang memberdayakan ibu dan anak jalanan, anak putus sekolah, serta mantan pengguna narkoba.
Dewi sendiri membangun Dynamic Learning atas 5 pilar, yang pertama yaitu agama sebagai pondasi terkuat dan paling dasar untuk mendidik. Yang kedua ada nasionalisme untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tanah air. Yang ketiga yaitu teknologi untuk mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak. Yang keempat ada motivasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Dan yang kelima yaitu kewirausahaan untuk membentuk anak-anak jalan dan keluarganya agar mandiri dalam finansial namun tidak dengan turun ke jalan sebagai pengemis atau pengamen. Kelima pilar ini adalah acuan untuk visi tersebut bisa tercapai.
Menurut Osadhani Rahma, selaku Chief Marketing Officer (CMO) dari Dynamic Learning, kegiatan yang dilakukan saat turun ke lokasi tidak hanya memberikan pendidikan formal saja, namun juga memberikan pelatihan kepada orang tua anak-anak tersebut. Osa menyebutkan bahwa banyak anak-anak turun ke jalan bukan karena kemauan mereka sendiri, namun karena orang tua mereka yang menyuruh untuk mencari uang. Oleh karena itu, Dynamic Learning melakukan pelatihan, dan pelatihan yang sudah terlaksana adalah pelatihan membuat kue. CMO Dynamic Learning itu juga menuturkan bahwa dengan adanya pelatihan ini, diharapkan orang tua – orang tua tersebut tidak lagi menyuruh anaknya untuk turun ke jalan  mencari uang, namun membuat sesuatu untuk menghasilkan uang.
Selain kegiatan tersebut, Dynamic Learning juga mempunyai kegiatan yaitu menjaring UMKM dari masyarakat yang ada di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan sebagainya. Kegiatan ini dilakukan karena Dynamic Learning ini sendiri sedang mengembangkan sebuah market place. Market place ini bertujuan untuk menjual produk dari masyarakat yang sudah diberikan pelatihan untuk membuat suatu hasil karya.
Dynamic Learning bukanlah organisasi biasa yang hanya ingin mengaspirasikan apa yang diinginkan suatu kelompok tertentu yang bisa diakui orang-orang bahkan negara, Dynamic Learning adalah organisasi pengubah yang peduli bukan hanya kepada orang yang ada di dalamnya namun bahkan lebih peduli kepada orang yang di luar mereka. 
Organisasi ini pun bahkan membuat pengaruh besar terhadap sasarannya, pengamen dan pengemis di Semarang semakin lama semakin berkurang karena adanya pengelolaan dan pengajaran yang baik dari pihak Dynamic Learning sendiri. Selain itu, Dynamic Learning pun sudah mulai dibuka di Jogja, dan semoga nantinya akan dibuka di seluruh Indonesia sehingga pengemis dan pengamen di berbagai daerah di Indonesia menjadi berkurang dan lama kelamaan tidak ada, karena program cerdas yang dibuat organisasi Dynamic Learning ini.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Motivation Letter Untuk Pertukaran Pelajar

Headline Kompas.com: Dua Gerbong LRT Tiba di Jakarta Lebih Cepat dari Jadwal

Headline Kompas.com: Alasan Bakri, Penghulu Muda Rajin Laporkan Gratifikasi dari Warga ke KPK