Review Digital Deception: Why, When and How People Lie Online


Penipuan marak terjadi di kehidupan sehari hari. Penelitian mengatakan bahwa rata-rata orang berbohong dua kali dalam sehari, dan kebohongan itu mulai dari hal tidak penting sampai hal yang serius. Penipuan ini juga terjadi bukan hanya dengan orang yang tidak dikenal, melainkan dengan teman bahkan keluarga sendiri. Penipuan yang terjadipun bukan terjadi ketika kita berhadapan langsung dengan orang tersebut, penipuan juga dapat malah bahkan sering terjadi lewat dunia maya melalui e-mail, instant messaging, bahkan social media.Karena adanya relevansi mengenai penipuan atau kebohongan dengan teknologi komunikasi, maka muncul pertanyaan pertanyaan mencakup masalah digital deception atau tipuan digital. Pertanyaan-pertanyaan ini mengatakan bagaimana internet bisa memfasilitasi penipuan lewat pemanipulasian identitas dan bagaimana cara kita bisa menghasilkan kebohongan.
Penipuan digital ini diartikan sebagai kontrol informasi yang disengaja oleh sang pelaku dalam pesan yang seluruhnya menggunakan teknologi dalam pengolahan data untuk menciptakan kepercayaan palsu terhadap penerima pesan. Karakteristik dalam penipuan menurut Buller dan Burgoon dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah tindakan penipuan yang disengaja, dan yang kedua adalah penipuan dibuat untuk menyesatkan. Penipuan dibuat untuk menyesatkan artinya adalah mereka bertujuan untuk meyakinkan orang lain agar mempercayai sesuatu yang sudah dirancang salah oleh si penipu tersebut.
Penipuan digital pun terbagi menjadi dua jenis yang luas, yang pertama berbasis pada identitas dan yang kedua berbasis pada pesannya. Penipuan digital berbasis identitas ini mengacu pada tipuan yang diberikan dari manipulasi atau tampilan palsu dari identitas seseorang atau organisasi. Sedangkan tipuan digital berbasis pesan mengacu pada tipu daya dimana informasi dalam pesan yang dipertukarkan antara lawan bicara dimanipulasi atau dikendalikan untuk menipu.
Dalam hal penipuan digital berbasis identitas, kita tahu bahwa kemampuan penipuan melalui teknologi informasi dan komunikasi untuk memanipulasi data kita sebenarnya memang harus dikaji ulang. Beberapa mode interaksi sosial yang diberikan oleh banyak komunikasi online, memberikan pengguna mempunyai kesempatan untuk bermain main dengan identitas asli mereka. Pengguna dapat mengganti gender asli mereka dari laki-laki menjadi perempuan, juga sebaliknya. Pengguna juga dapat membentuk personality di dunia maya seperti apa yang pengguna inginkan, ketika kamu adalah orang introvert maka akan sangat mudah kamu mengelabuhi orang dengan bersikap seperti ektrovert di dunia maya, karena tidak adanya pengetahuan orang lain mengenai diri kita yang sebenarnya. Hal seperti itulah yang menyebabkan representasi virtualnya sungguh baik, namun ketika kita bertemu dengan orang tersebut akan terasa sangat berbeda dengan apa yang sudah kita ketahui melalui dunia maya (social media, IM, email, dll.)
Dengan segala perkembangannya, internet tidak hanya menjadi dunia untuk berinteraksi saja namun meluas ke dalam berbagai aspek, seperti aspek ekonomi, perdagangan, jual beli. Dengan segala kemudahan anonimitas dan pemalsuan identitas, maka seiring pula marak kasus-kasus kriminal yang berhubungan dengan itu. Sebut saja, pemalsuan kartu kredit, penipuan transaksi uang, penipuan barang di situs jual beli, dan lainnya. Dari Grazioli dan Jarvenpaa, diklasifikasikan tujuh taktik tipuan secara umum, yaitu masking (menghilangkan informasi penting), dazzling (mengaburkan informasi penting mengenai suatu hal), dan decoying (mendistraksi perhatian pembeli). Tiga taktik itu berkaitan dengan barang transaksi dalam proses jual beli digital. Sedangkan, empat lainnya yakni melibatkan informasi mengenai transaksi itu, seperti mimicking (meniru identitas orang lain atau memalsukan transaksi), inventing (membuat informasi palsu yang tidak ada di dunia nyata mengenai sebuah transaksi), relabeling (menyesatkan transaksi), dan double play (meyakinkan korban bahwa dia dimanfaatkan). 
Sementara itu, penipuan berbasis pesan lebih bersifat tidak anonimus, karena kita biasanya mengenal kepada siapa kita berbicara, sehingga otomatis kita pasti mengetahui identitasnya secara langsung. Namun begitu tidak membuat penipuan tidak bisa terjadi. Penipuan berbasis pesan ini lebih cenderung kepada penipuan terhadap partner kerja, teman, atasan, dan kerabat dalam hal profesional. Untuk menipu, cara yang digunakan oleh penipu ini adalah mengirimkan pesan yang berbeda dengan realita yang ada. 
Meskipun begitu banyak spekulasi tentang penipuan lewat pesan ini. Keyes mengatakan bahwa "surat elektronik adalah anugerah. Dengan e-mail kita tidak perlu khawatir tentang getaran dalam suara kita atau getaran di kelingking kita saat berbohong. Email adalah tingkat pertama penipuan-enabler.” Namun sebenarnya mungkin itu lebih mengacu pada kekaguman akan kemudahan berkomunikasi. 
Teknologi komunikasi bervariasi namun hanya memiki satu dimensi yang akan empengaruhi penipuan dan mengabaikan perbedaan penting lainnya dalam apa yang telah mereka rencanakan untuk menipu. Dalam model media dan tipuan berbasis fitur, mengusulkan bahwa setidaknya tiga fitur media penting untuk tindakan penipuan, termasuk yang pertama sinkronisitas medium (yaitu, sejauh mana pesan dipertukarkan seketika dan secara real-time). Yang kedua, ketepatan waktu medium (yaitu, sejauh mana interaksi didokumentasikan secara otomatis). Dan yang ketiga, apakah pembicara dan pendengarnya didistribusikan atau tidak, mereka tidak berbagi ruang fisik yang sama). Sayangnya, semakin tersingkron dan terdistribusinya basis model fitur ini, semakin berkurangnya kemampuan merekam frekuensi kebohongan terjadi.
Mengetahui informasi dan komunikasi dalam teknologi membuat kita mengerti aspek dalam kehidupan, yang mungkin saja sulit untuk mengatur dampak seperti teknologi yang adalah salah satu aspek tertua di kehidupan manusia yaitu penipuan. Meski teknologi juga membangun dan mempekerjakan, fitur-fitur nya yang canggih dan mudah itulah yang menjadi penyebab adanya penipua, hal seperti itu yang harus dikaji lebih dalam. Seperti contoh dalam situs pacaran online, kita bisa membohongi penampilan dan kepribadian kita, namun apakah itu tidak berdampak? Tentu saja dalam hal ini akan merugikan orang lain, karena ketika bertemu langsung dalam kehidupan nyata, akan muncul kekecewaan. Hal itu yang harus dimengerti dalam mengelola dunia maya yang kita punya.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Motivation Letter Untuk Pertukaran Pelajar

Headline Kompas.com: Dua Gerbong LRT Tiba di Jakarta Lebih Cepat dari Jadwal

Headline Kompas.com: Alasan Bakri, Penghulu Muda Rajin Laporkan Gratifikasi dari Warga ke KPK