REVIEW TEORI TEORI TENTANG PENGETAHUAN

           1.    Hubungan antara Pengetahuan dan KeyakinanPengetahuan tidak sama dengan keyakinan. Dalam keyakinan, objek yang disadari tidak selalu harus ada. Sedangkan pengetahuan, objek yang di sadari memang ada sebagaimana adanya.
Pengetahuan selalu mengandung keyakinan pada awalnya, yaitu keyakinan mengenai keberadaan riil tentang pengetahuan itu. Dalam hal ini, muncul 2 pendapat yang berbeda. Pendapat pertama yaitu pengetahuan sendiri juga tidak akan menjadi pengetahuan jika yang bersangkutan tidak sadar bahwa dia tahu.
Para filsuf fenomenologi membagi kesadaran dalam 2 tingkatan. Tingkat pertama adalah kesadaran bahwa di luar ada sebuah pohon, dan tingkat kedua adalah kesadaran bahwa saya sedang sadar bahwa di luar sana ada sebuah pohon. Pada tingkat kedua inilah, seseorang benar benar punya pengetahuan tentang sesuatu, dimana kita memang harus tahu bahwa kita tahu tentang itu.
Pada pendapat kedua, supaya ada pengetahuan tidak perlu ada kesadaran supaya objek itu tahu. Pendapat ini sesungguhnya tidak bertentangan pada pendapat pertama, hanya mendukung pendapat pertama bahwa pengetahuan benar benar ada ketika subjek tersebut sadar ataupun tersadar kembali bahwa dia mengetahui hal itu. Jadi, supaya ada pengetahuan, selain objek yang disadari memang ada dan benar benar ada, juga bahwa kita harus tahu bahwa kita tahu bahwa yang diklaim itu benar benar ada.

2.     Macam Macam Pengetahuan Menurut Polanya
a. Tahu Bahwa, pengetahuan tentang informasi tertentu, tahu bahwa sesuatu terjadi, tahu bahwa ini atau itu memang demikian adanya, bahwa apa yang dikatakan memang benar. Kelebihannya adalah informasi atau data yang dimilikinya.
b. Tahu Bagaimana, pengetahuan yang berkaitan dengan praktik dan mengerti bagaimana cara melakukannya, dapat disebut sebagai teori praktis yang tidak meninggalkan landasan atau asumsi teoretis tertentu.
c. Tahu akan/mengenai, pengetahuan yang bersifat sangat spesifik karena didapatkan melalui pengalaman atau pengenalan pribadi. Mempunyai ciri-ciri kadar kebenaran dan objektivitas cukup tinggi, penggambaran, penilaian, dan pernyataan yang lebih            akurat tentang suatu objek, dan singular (berkaitan dengan barang/objek khusus) yang           objeknya dikenal secara langsung dan personal.
d. Tahu mengapa, berkaitan dengan penjelasan mengenai bagaimana suatu peristiwa dapat terjadi, akal dan budi manusia berperan melakukan refleksi, mengajukan sistem, atau analogi untuk mengaitkan berbagai macam data, kemudian disusun secara            sistematis, dan muncul sebuah pemahaman mengenai kejadian suatu peristiwa.

3. Hubungan di antara Empat Macam Pengetahuan
a. Antara “tahu bahwa” dan “tahu bagaimana”, pengetahuan “bagaimana” hanya merupakan penerapan praktis dari apa yang telah diketahui pada tingkat “bahwa”. Penerapannya, setelah memahami bahwa peristiwa terjadi sebagaimana mestinya, lalu menerapkannya untuk melakukan sesuatu.
Di lain pihak, seseorang lebih dulu memiliki pengetahuan “bagaimana” melalui trial and error, kemudian merumuskannya menjadi “tahu bahwa” secara samar-samar. Kemudian setelah mengalami keberhasilannya dengan “tahu bagaimana”, pengetahuan “bahwa” tadi menjadi aktual.
b. Antara “tahu bahwa” dan “tahu akan”, tuntutan pentingnya “tahu akan” atau pengetahuan melalui pengenala bagi “pengetahuan bahwa” sangat penting untuk ilmu-ilmu sosial. Michael Polanyi mengatakan bahwa supaya kita bisa “tahu bahwa sesuatu sebagaimana adanya” kita harus mempunyai pengalaman pribadi yang langsung. 
c. Antara “tahu bagaimana” dan “tahu akan”, dengan mengetahui bagaimana sesuatu bekerja secara pribadi, kita akan bertindak lebih cepat dalam penyelesaiannya.
d. Antara “tahu mengapa” dan ketiga jenis pengetahuan lainnya, 1) agar sesuatu benar-benar akurat, memerlukan “tahu mengapa” agar kita tahu bagaimana sesuatu terjadi sebagaimana adanya, namun perlu pengetahuan “tahu bahwa” sebagai pengandaian, 2) “tahu bagaimana” merupakan aplikasi dan konsekunsi dari pengetahuan kita mengenai mengapa sesuatu terjadi, yaitu mengenai sebab dan akibat, dan 3) kita harus mengetahui mengapa sesuatu terjadi (“tahu mengapa”) karena kita tahu secara personal atau pernah mengalaminya (“tahu akan”).

4. Skeptisisme
Sikap dasar skeptisme adalah bahwa kita tidak pernah tahu tentang apa pun, skeptisisme meragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui segala sesuatu karena tidak ada bukti untuk mempertahankan bahwa manusia benar-benar tahu tentang sesuatu. Skeptisisme terutama muncul karena anggapan bahwa pengetahuan menyangkut kepastian, klaim ilmu pengetahuan tentang kebenaran. Para skeptis mempertanyakan apakah kita bisa memperoleh informasi yang kredibel mengenai kebenaran tersebut, dan perlu dikatakan skeptis telah menyumbangkan sikap keraguan secara positif terhadap klaim dan bukti pada tingkatan tertentu.
Dengan sikap meragukan sesuatu, termasuk yang kita anggap sebagai benar, kita akan melangkah semakin dalam suatu kebenaran yang pasti dan sempurna. Kenyataan menunjukkan bahwa selalu ada konsep yang berpasangan, jadi jika skeptisisme menerima ketidaktahuan manusia, hal itu juga harus menerima kemungkinan pengetahuan manusia. Skeptisisme radikal melahirkan kontradiksi, dimana keraguan itu menimbulkan keraguan yang lain.


Comments

Popular posts from this blog

Contoh Motivation Letter Untuk Pertukaran Pelajar

Headline Kompas.com: Dua Gerbong LRT Tiba di Jakarta Lebih Cepat dari Jadwal

Headline Kompas.com: Alasan Bakri, Penghulu Muda Rajin Laporkan Gratifikasi dari Warga ke KPK