Review Butler Lies: Awareness, Deception, and Design
Seberapa banyak orang dari kita yang tidak menggunakan aplikasi berupa instant messaging? Tentu hanya sedikit, karena di zaman telepon pintar ini aplikasi instant Messagingsangat laris digunakan oleh banyak orang karena murahnya kuota yang dikeluarkan, juga lebih mudah karena fitur-fiturnya yang canggih. Namun karena fitur canggih yang ada pada instant messagingini, sering kali orang melakukan sebuah kebohongan kecil karena apapun yang dilakukan oleh orang itu bisa terlihat, seperti contohnya membuka pesan tersebut akan ada tulisan readatau centang dua berwarna biru. Kebohongan kecil yang dilakukan untuk menghentikan sebuah peracakapan ini disebut dengan istilah “butler lies”.
Dalam masalah ini, ada dua pendekatan untuk menangani masalah pengelolaan interaksi sosial. Pertama adalah pendekatan teknologi yang dimana para penciptanya berusaha membangun teknologi yang mendukung peningkatan kewaspadaan interpersonal tentang aktivitas orang lain, apakah hal itu mengganggu atau tidak. Dan pendekatan kedua yaitu untuk menekankan prinsip-prinsip design yang mempertimbangkan praktek sosial yang muncul seputar teknologi komunikasi. Tujuan dari pendekatan tersebut adalah untuk memeriksa seberapa besarnya kebohongan tersebut dan bagaimana penipuan itu mengelola interaksi sosial.
Penipuan dalam instant messagingsering digunakan untung mencipatakan tembok antara pengguna dan percakapan yang tidak diingingkan. Kebohongan-kebohongan yang terjadi pada umumnya adalah untuk menghindari interaks, contohnya menulis status busypadahal sedang lengang, dan melepaskan diri dari percakapan tidak menarik, contohnya berkata hendak pergi walau sebenarnya tidak. Istilah butler lies atau kebohongan kepala pelayan ini dimaksudkan menyinggung fungsi penyangga sosial yang disediakan pelayan untuk majikan mereka, dimana anda berada untuk bekerja anda harus memposisikan diri berbeda. Butler liesini adalah jenis strategi yang baik ketika adanya tindakan mengancam jiwa.
Oleh karena hal tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan mengambil sampel 43 orang, dan penelitian ini menggunaka system penelitian apate. System peneltian apate ini terdiri dari dua bagian yaitu Apate Experiment Manager berbasis online, dan Apate Instant MessagingClient, klien Pidgin yang dimodifikasi. Manajer eksperimen apate adalah sistem berbasis PHP dan MySQL yang memungkinkan peneliti menyiapkan parameter eksperimen, mulai dari penanganan rekrutmen, penjadwalan, dan pengingat peserta, untuk menyiapkan survei yang terkait dengan penelitian ini, dan akhirnya, mengendalikan bagaimana instan pesan klien akan berfungsi. Sedangkan apate instant messagingklien adalah klien pesan instan open source yang berbasis pada Pidgin. Program dimodifikasi sehingga sebuah jendela muncul setelah peserta mengirim pesan, mengharuskan peserta untuk menilai pesan dalam skala numerik.
Pada penelitian ini, ada tiga tahap pengodean kebohongan, yang pertama untuk jokularitas karena reputasi diri kadang melibatkan lelucon, kebohongan ini dikodekan sebagai lelucon jika pesan yang tersebut tidak maksudkan kepada orang yang bersangkutan. Yang kedua adalah untuk pelayan, sisa kebohongan ini dikodekan jika tipuan itu menyangkut pengelolaan komunikasi. Dan yang terakhir adalah kepala pelayang terlibat masuk atau keluar dari interakasi ini atau mengatu dan mendiskusikan perilaku lainnya.
Pada penelitian ini, hasil yang didapatkan adalah 762 pesan dari 6.996 pesan dari peserta adalah sebuah kebohongan. Tujuh puluh tujuh dari nilai reputasi diri dikodekan sebagai jocular dan dikeluarkan dari analisis kebohongan lebih jauh. Dengan demikian, jumlah kebohongan adalah 685, yang mewakili 9,79% dari semua pesan instant messaging.
Dari hasil penelitian tersebut kita bisa mengetahui bagaimana pengguna instant messagingdan bagaimana orang orang menggunakan instant messagingmelakukan penipuan dalam mengatur interaksi sosial orang itu di dunia maya, serta memberi wawasan bagi kita untuk mendukung kesadaran interpersonal dalam berkomunikasi dalam instant messagingitu sendiri. Membahas nilai ambiguitas dalam instant messagingkarena memberikan penyangkalan yang masuk akal dan kemampuan untuk mengabaikan pesan masuk. Ketika mereka membahas pesan itu sendiri, mereka tidak menyebutkan kebenaran atau niat untuk menipu orang lain.
Karena pengetahuan tentang tujuan konsep butler liesatau kebohongan kepala pelayan ini, kita akhirnya memahami bahwa kebohongan kecil ini adalah praktik sosial dalam memasuki dan juga tempat keluar dari interaksi yang tidak kita sukai, dan untuk mengatur ataupun membenarkan perilaku kita di depan orang lain. Hal ini juga berfungsi sebagai sumber untuk mengembangkan prinsip desain saat menciptakan solusi teknis baru untuk masalah yang terkait dengan kesadaran diri dalam komunikasi di dunia maya.
Comments
Post a Comment