Feminisme Adalah Hak Setiap Manusia
Pasti Anda sudah tidak asing mendengar kata feminisme. Kata feminisme ini diambil dari Bahasa Latin yang berarti femina atau perempuan. Feminisme ini adalah suatu gerakan wanita untuk menutut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan menutut hak-hak perempuan. Bukan hanya di luar negri saja, gerakan feminisme ini pula sudah banyak disetejui oleh banyak wanita di Indonesia karena memang kesetaraan pada hak-hak perempuan perlu disadari oleh setiap orang.
Gerakan feminisme ini bukanlah sebuah doktrin ataupun sebuah kepercayaan, banyak orang yang salah paham dengan gerakan feminisme ini. Bukan hanya doktrin ataupun kepercayaan, bahkan tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa jika kita setuju dan menjadi feminis (orang yang ikut dalam gerakan feminisme), berarti kita adalah ateis, padahal tidak sama sekali. Feminisme bukanlah paksaan, tapi memang kita memberi tahu bahwa sebagai wanita bukanlah hal yang wajar jika kita harus terus-menerus tunduk terhadap apa yang laki-laki inginkan.
Seperti yang kita ketahui, telah banyak wanita-wanita di Indonesia yang tidak kalah hebatnya dengan laki-laki, seperti contohnya Tri Rismaharani atau yang lebih kita kenal dengan Ibu Risma, yaitu Walikota Surabaya. Tentu saja Ibu Risma adalah hanya salah satu contoh wanita hebat di Indonesia karena sebagai seorang wanita, beliau sudah berhasil membawa nama kota Surabaya menjadi kota yang dipandang oleh masyarakat Indonesia belakangan ini.
Sebagai manusia yang beradab dan terbuka tentu saja kita mengharapkan bahwa feminisme didukung dan disadari oleh setiap orang. Bukan karena kita sebagai wanita ingin dijunjung tinggi dan dielu-elukan, bukan pula karena sebagai wanita kita ingin mendominasi negara ini atau dengan kata lain ingin membalas dendam dengan apa yang sudah laki-laki perbuat dengan kaum wanita zaman dahulu. Tidak, kami hanya ingin bahwa setiap orang sadar bahwa kita sesama manusia ciptaan Tuhan mempunya hak dan kewajiban yang sama di mata negara, tidak melihat dari gender apakah kamu.
Sayangnya, realita yang ada tidak seindah ekspektasi itu. Masih banyak orang yang belum terbuka pikirannya dan beranggapan bahwa “kodrat wanita hanya didapur dan tunduk kepada laki-laki”. Sebenarnya secara logika pernyataan itu tidak seratus persen salah. Memang wanita harus tunduk kepada laki-laki, namun konteks laki-laki dalam kalimat tersebut adalah suami, yang dimana dalam agamapun diajarkan bahwa kita harus menghormati suami kita. Walau begitu, tentunya kita mempunyai keinginan untuk melakukan suatu hal saat kita menjadi istri, dan sebagai feminis seharusnya kita berani menyuarakan apa yang kita inginkan, jika kita ingin juga bekerja katakanlah pada suamimu dan berikan alasan yang masuk akal sehingga suamimu bisa mempertimbangkan itu dengan baik.
Masih banyak pula orang yang salah kaprah dalam mengartikan feminisme. Banyak yang beranggapan bahwa hanya perempuan yang bisa menjadi feminis. Tentu saja itu salah, feminis tidak harus perempuan, laki-laki juga bisa. Yang terpenting adalah orang itu mau menyadari dan mendukung bahwa kaum perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Kita tidak perlu mendeskriminasi orang itu karena dia berbeda gender, karena hal itu sama saja yang seperti kita perjuangkan.
Feminisme ini sebenarnya sudah terbentuk sejak abad 24 abad lalu dengan Elaine Hoffman Baruch sebagai penggagas yang menyatakan “untuk kesetaraan politik dan seksual pada perempuan secara keseluruhan, lebih baik agar mereka (kaum perempuan) menjadi anggota kelas tertingginya (kaum laki-laki).” Itu adalah gelombang awal dari berdirinya feminisme, masih ada gelombang pertama, kedua, ketiga dan gelombang keempat. Gelombang awal feminisme dimulai awal ke-19 dimana di negara yang menggunakan Bahasa Inggris, mereka berusaha memenangkan hak pilih, hak pendidikan perempuan kondisi kerja yang lebih baik, dan penghapusan standar ganda gender dikenal sebagai feminisme gelombang pertama. Istilah "gelombang pertama" diciptakan secara retrospektif ketika istilah feminisme gelombang kedua digunakan untuk menggambarkan gerakan feminis yang lebih baru
Gelombang kedua ini mulai mengidentifikasi periode aktivitas feminis sejak awal 1960-an sampai akhir 1980-an yang melihat ketidaksetaraan budaya dan politik yang terkait erat. Gerakan ini mendorong perempuan untuk memahami kehidupan pribadi mereka agar lebih terstruktur lagi, feminis gelombang kedua juga berfokus pada isu-isu kesetaraan budaya lainnya, seperti contohnya kasus deskriminasi. Gelombang ketiga dimulai awal tahun 1990-an yang menanggapi apa yang wanita muda anggap sebagai kegagalan gelombang kedua. Ini juga merespons reaksi balik terhadap inisiatif dan gerakan gelombang kedua. Gelombang keempat feminisme adalah perkembangan terakhir dalam gerakan feminis. Jennifer Baumgardner mengidentifikasi feminisme gelombang keempat yang dimulai pada tahun 2008 dan berlanjut sampai sekarang.
Sedangkan di Indonesia sendiri kehadiran feminisme banyak ditakuti banyak orang karena banyak orang yang tidak mengerti arti sebenarnya. Selain itu karena gerakan ini berasal dari Eropa, dan banyak menghasilkan wanita-wanita yang kritis berani mengemukakan pendapat dan memperjuangkan hak-haknya. Di Indonesia di awali oleh emansipasi R.A. Kartini yang dikenal dengan “habis gelap terbitlah terang.” Beliau menginginkan bahwa bukan hanya laki-laki saja yang mendapat pendidikan sampai jenjang tinggi, tapi wanita juga, dan bukan hanya wanita yang berada pada kasta atas saja yang bisa mendapat pendidikan, tetapi setiap wanita di semua kasta bisa mengenyam pendidikan sampai jenjang tertinggi.
Perjuangan Kartini ini membuahkan hasil yang luar biasa kepada wanita-wanita Indonesia sampai saat ini. Indonesia banyak melahirkan wanita hebat yang patut dibanggakan oleh negara, bukan hanya karena kecerdasannya, tapi juga karena apa yang sudah dan yang berani dia lakukan untuk negeri ini sangat berdampak kepada orang di sekitarnya. Jadi, setiap orang sepatutnya menyadari gerakan feminis ini sendiri karena setiap orang mempunyai hak untuk menjadi feminis. Kita tidak perlu takut untuk menyatakan kita adalah seorang feminis hanya karena banyak orang yang tidak setuju dengan gerakan tersebut, karena untuk menjadi feminis adalah hak setiap manusia.
Referensi:
1 https://en.wikipedia.org/wiki/Feminism
2 Mansour Fakih, Analisis Gender dan Tranformasi Sosial, Yogyakarta :Pustaka Pelajar, 1997
3 http://magdalene.co/news-381-10-pemahaman-keliru-tentang-feminisme-.html
Comments
Post a Comment